Formula Tetap Bahagia dan Berguna di Tengah Krisis: Saat Kritik kepada Penguasa Bertemu Tawakal kepada Allah

Belakangan ini, suasana publik Indonesia terasa semakin panas. Media sosial dipenuhi kritik terhadap pemerintah, perdebatan tentang pajak, korupsi, penegakan hukum, utang negara, pengelolaan sumber daya alam, hingga berbagai kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.

Sebagian orang merasa negara sedang baik-baik saja. Sebagian lain merasa keadaan semakin sulit. Ada yang optimis. Ada yang pesimis. Ada yang membela pemerintah mati-matian. Ada pula yang mengkritik tanpa ampun.

Di tengah suasana seperti itu, muncul pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar siapa yang menang debat:

Bagaimana cara seorang muslim tetap hidup bahagia, tenang, dan bermanfaat di tengah kondisi yang dianggap sedang tidak baik-baik saja?

Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya soal politik. Hidup juga bukan hanya soal ekonomi. Dan kehidupan seorang muslim tidak boleh sepenuhnya ditentukan oleh siapa yang sedang berkuasa.

Di sinilah kita membutuhkan sebuah formula yang seimbang: tetap kritis terhadap keadaan, namun tetap bergantung kepada Allah.

Ketika Kekecewaan Menjadi Bahasa Publik

Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak masyarakat yang kecewa.

Mereka melihat kasus-kasus besar yang dianggap tidak jelas ujungnya. Mereka melihat penegakan hukum yang menurut mereka tidak selalu konsisten. Mereka melihat korupsi terus terungkap dari tahun ke tahun.

Akibatnya, lahirlah ungkapan-ungkapan seperti:

"Rakyat dijajah bangsa sendiri."

"Hukum hanya tajam ke bawah."

"Rakyat tidak akan pernah menang."

"Semua sudah diatur."


Ungkapan-ungkapan semacam ini biasanya lahir bukan karena kajian akademis, melainkan karena akumulasi kekecewaan.

Masalahnya, kekecewaan yang tidak terkendali sering berubah menjadi cara pandang hidup.

Awalnya seseorang hanya kecewa terhadap sebuah kebijakan.

Lalu berkembang menjadi kecewa terhadap pemerintah.

Kemudian menjadi kecewa terhadap seluruh sistem.

Dan akhirnya menjadi kecewa terhadap masa depan.

Saat itulah seseorang mulai kehilangan harapan.

Padahal kehilangan harapan adalah kerugian yang jauh lebih besar daripada kehilangan perdebatan politik.

Mengapa Banyak Debat Tidak Pernah Selesai?

Fenomena yang sering terjadi adalah rakyat dan pemerintah berbicara dengan bahasa yang berbeda.

Pemerintah datang dengan angka.

Masyarakat datang dengan pengalaman.

Pemerintah mengatakan:

pertumbuhan ekonomi naik,

kemiskinan turun,

investasi meningkat.


Sementara sebagian rakyat mengatakan:

harga kebutuhan terasa berat,

lapangan pekerjaan sulit,

kehidupan sehari-hari tidak terasa lebih baik.


Kedua pihak sering merasa dirinya paling benar.

Akibatnya, dialog berubah menjadi pertarungan.

Padahal sering kali mereka sedang melihat sisi yang berbeda dari kenyataan yang sama.

Yang satu melihat statistik.

Yang satu melihat realitas lapangan.

Di sinilah muncul kebuntuan.

Rakyat merasa kalah data.

Pejabat merasa sudah menjelaskan.

Tidak ada yang benar-benar puas.

Bahaya Menganggap Penguasa Sebagai Penentu Segala Sesuatu

Ada satu bahaya yang sering tidak disadari.

Ketika seseorang terlalu fokus kepada penguasa, lama-kelamaan ia mulai meyakini bahwa penguasalah yang menentukan segala sesuatu.

Jika ekonomi sulit, salah penguasa.

Jika usaha gagal, salah penguasa.

Jika hidup berat, salah penguasa.

Jika masa depan suram, salah penguasa.

Padahal dalam aqidah Islam, keyakinan seperti ini memiliki masalah besar.

Sebab seorang muslim meyakini bahwa penguasa hanyalah sebab.

Sedangkan yang mengatur sebab dan akibat adalah Allah.

Betapa banyak orang yang hidup sederhana namun bahagia.

Betapa banyak orang yang hidup di tengah kesulitan tetapi tetap tenang.

Betapa banyak orang yang hidup di bawah pemerintahan yang tidak sempurna namun tetap berhasil membangun keluarga, usaha, dakwah, dan pendidikan anak-anak mereka.

Karena mereka memahami bahwa kekuasaan manusia selalu terbatas.

Sedangkan kekuasaan Allah tidak terbatas.

Kesalahan Sebagian Kaum Muslimin

Di sisi lain, ada kesalahan yang juga sering terjadi.

Ketika melihat kritik kepada pemerintah, sebagian orang langsung menjawab:

"Sudah, tawakal saja."

"Sudah, qana'ah saja."

"Sudah, banyak istighfar saja."

Nasihat tersebut benar.

Tetapi menjadi tidak tepat jika digunakan untuk menutupi kezaliman atau menghilangkan tanggung jawab.

Islam tidak mengajarkan kita untuk berpura-pura tidak melihat kesalahan.

Korupsi tetap korupsi.

Kebohongan tetap kebohongan.

Penyalahgunaan jabatan tetap penyalahgunaan jabatan.

Pengelolaan negara tetap harus dipertanggungjawabkan.

Tawakal bukan berarti mematikan akal.

Qana'ah bukan berarti membenarkan semua keadaan.

Kesabaran bukan berarti membiarkan kemungkaran.

Karena itu, seorang muslim tidak boleh menggunakan agama sebagai alat untuk menutup pintu evaluasi.

Kesalahan Kelompok yang Lain

Sebaliknya, ada pula kelompok yang terjebak dalam kesalahan berbeda.

Mereka begitu fokus kepada politik hingga melupakan Allah.

Setiap hari yang dibahas adalah:

pemerintah,

pejabat,

partai,

buzzer,

korupsi,

kekuasaan.


Tetapi jarang membahas:

shalat,

doa,

istighfar,

sedekah,

perbaikan diri,

pendidikan keluarga.


Mereka marah kepada penguasa.

Namun tidak pernah bertanya:

"Apa yang sudah saya perbaiki dari diri saya?"

Mereka ingin negara berubah.

Tetapi tidak pernah memikirkan bagaimana mengubah dirinya sendiri.

Padahal Allah berfirman bahwa perubahan suatu kaum dimulai dari perubahan yang ada pada diri mereka.

Formula yang Hilang

Dari sinilah kita menemukan formula yang sering hilang:

Kritik yang adil + tawakal yang benar.

Bukan kritik tanpa tawakal.

Bukan pula tawakal tanpa kepedulian.

Keduanya harus berjalan bersama.

Kita boleh mempertanyakan kebijakan.

Kita boleh mengkritik korupsi.

Kita boleh meminta transparansi.

Kita boleh menuntut keadilan.

Namun pada saat yang sama kita juga harus menjaga keyakinan:

rezeki datang dari Allah,

pertolongan datang dari Allah,

perubahan datang dari Allah,

kemenangan datang dari Allah.


Jika salah satu sisi hilang, maka keseimbangan akan rusak.

Mengapa Banyak Orang Tidak Bahagia?

Salah satu sebab banyak orang tidak bahagia adalah karena mereka menaruh harapan terlalu besar kepada manusia.

Mereka berharap penguasa akan menyelesaikan seluruh masalah.

Mereka berharap kebijakan baru akan mengubah hidup mereka secara total.

Mereka berharap pergantian pemimpin akan menghapus seluruh kesulitan.

Ketika harapan itu tidak terwujud, lahirlah kekecewaan.

Lalu kekecewaan berubah menjadi kemarahan.

Kemarahan berubah menjadi sinisme.

Sinisme berubah menjadi putus asa.

Padahal hati manusia tidak diciptakan untuk bergantung kepada manusia.

Hati manusia diciptakan untuk bergantung kepada Allah.

Karena itu, semakin besar ketergantungan kepada manusia, biasanya semakin besar pula peluang kecewa.

Menjadi Berguna di Tengah Krisis

Jika memang keadaan negara sedang sulit, lalu apa yang harus dilakukan?

Jawabannya bukan hanya mengeluh.

Jawabannya adalah menjadi orang yang berguna.

Saat ekonomi sulit:

bantu keluarga,

bantu tetangga,

bantu masyarakat sekitar.


Saat moral rusak:

didik anak-anak,

ajarkan agama,

perbaiki lingkungan.


Saat informasi penuh kebencian:

sebarkan ilmu,

sebarkan adab,

sebarkan kebaikan.


Orang yang berguna akan selalu memiliki peran.

Tidak peduli siapa yang sedang menjadi presiden.

Tidak peduli partai apa yang sedang berkuasa.

Tidak peduli bagaimana peta politik berubah.

Karena manfaatnya tidak bergantung kepada jabatan.

Fokus pada Lingkaran Pengaruh

Banyak orang menghabiskan energi untuk sesuatu yang tidak bisa mereka ubah.

Mereka marah setiap hari terhadap berita nasional.

Namun lalai terhadap keluarganya sendiri.

Mereka hafal nama pejabat.

Namun tidak hafal hafalan anaknya.

Mereka tahu seluruh skandal politik.

Namun tidak tahu kondisi tetangga yang kesulitan.

Padahal kebahagiaan sering lahir ketika seseorang fokus pada wilayah yang bisa ia pengaruhi.

Mulailah dari:

diri sendiri,

keluarga,

usaha,

dakwah,

lingkungan terdekat.


Di situlah keberkahan sering turun.

Menjadi Muslim yang Seimbang

Muslim yang seimbang tidak hidup di dunia fantasi.

Ia tahu ada korupsi.

Ia tahu ada ketidakadilan.

Ia tahu ada penyimpangan.

Namun ia juga tahu bahwa Allah masih mengatur alam semesta.

Ia tahu manusia bisa berbuat zalim.

Tetapi ia juga tahu Allah mampu membalik keadaan kapan saja.

Karena itu ia tidak putus asa.

Ia tidak mabuk politik.

Ia tidak tenggelam dalam kemarahan.

Ia tidak menjadi penjilat.

Ia tidak menjadi pembenci.

Ia tetap berjalan di jalan tengah.

Penutup: Rahasia Ketenangan di Zaman yang Sulit

Mungkin Indonesia memang memiliki banyak masalah.

Mungkin sebagian kritik masyarakat memang memiliki dasar yang kuat.

Mungkin masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh para pemimpin negeri ini.

Namun satu hal yang tidak boleh hilang dari hati seorang muslim:

Nasib kita tidak berada di tangan manusia.

Manusia hanya sebab.

Allah adalah pengatur seluruh sebab.

Karena itu, tetaplah kritis tanpa menjadi sinis.

Tetaplah peduli tanpa menjadi fanatik.

Tetaplah menuntut keadilan tanpa kehilangan adab.

Tetaplah mengoreksi kesalahan tanpa melupakan doa.

Tetaplah bekerja tanpa kehilangan tawakal.

Tetaplah berharap tanpa bergantung kepada manusia.

Sebab kebahagiaan sejati bukan lahir ketika semua keadaan menjadi ideal, melainkan ketika hati mampu menempatkan setiap perkara pada porsinya.

Kita mengakui kesalahan manusia, tetapi tidak mengkultuskan manusia.

Kita melihat realitas dengan mata yang jernih, namun tetap menggantungkan harapan kepada Allah semata.

Di situlah seorang muslim dapat tetap tenang, tetap bermanfaat, dan tetap optimis, bahkan ketika hidup di tengah masa-masa yang dianggap paling sulit sekalipun.